Aneka produk olahan susu fermentasi saat ini populer sebagai pangan
fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Produk olahan
susu fermentasi yang banyak dikonsumsi dan beredar luas di masyarakat
misalnya yogurt dan kefir. Sebenarnya produk olahan susu fermentasi
sudah lama dikenal di Indonesia. Sebut saja, masyarakat Sumatera Barat
yang sudah lama mengenal dan mengonsumsi dadih, yaitu produk susu kerbau
fermentasi.
Dadih adalah pangan tradisional yang sudah dikonsumsi sejak lama oleh
masyarakat Sumatera Barat. Masyarakat pedesaan sering mengonsumsi dadih
secara langsung atau sebagai lauk pauk pendamping nasi.
Pembuatan dadih
Dadih terbuat dari fermentasi susu kerbau. Teknologi pembuatannya sangat
sederhana. Setelah diperah, susu kerbau langsung dimasukkan ke dalam
sepotong ruas bambu segar dan ditutup dengan daun pisang. Selanjutnya
didiamkan atau difermentasi secara alami dalam suhu ruang selama satu
sampai dua hari sampai terbentuknya gumpalan.
Dalam waktu 24 jam, mikroba dari bambu akan menggumpalkan susu menjadi
semacam puding atau tahu putih kekuning-kuningan, kental dan beraroma
khas (kombinasi aroma susu dan bambu). Setelah proses fermentasi
selesai, dadih dapat langsung dimakan.
Yudoamijoyo ddk (1983) menyebutkan dadih mengandung zat gizi sebagai
berikut: kadar air (84,35%), protein (5,93%), lemak (5,42%), karbohidrat
(3,34%). Kadar keasaman (pH) dadih adalah 3,4. Di dalam dadih
diisolasi dan didentifikasi 36
strain bakteri pembentuk asam laktat.
Manfaat dadih
Dari beberapa penelitian diketahui bahwa dadih mengandung bakteri asam
laktat (BAL) yang potensial sebagai probiotik. Di dalam dadih terdapat
bakteri asam laktat (salah satu jenis bakteri probiotik) yang berperan
dalam pembentukan tekstur dan cita rasa.
Bakteri asam laktat dan produk turunannya mampu mencegah timbulnya
berbagai penyakit seperti mencegah enterik bakteri patogen, menurunkan
kadar kolesterol di dalam darah, mencegah kanker usus, anti mutagen,
anti karsinogenik dan meningkatkan daya tahan tubuh (Suryono, 2003).
Selain itu, dadih diduga efektif sebagai antivaginitis (Suryono, 1996).
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eni Harmayani dari Fakultas Teknologi
Pertanian UGM berhasil melakukan isolasi bakteri asam laktat (BAL) dari
dadih. Bakteri tersebut dinamakan
Lactobacillus sp. Dad 13.
Selanjutnya berdasarkan uji in vitro dan in vivo ternyata BAL dari dadih
terbukti ampuh menurunkan kolesterol.
Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa dadih efektif menurunkan
kolesterol 39,8% pada hewan coba yang diberi pakan tanpa kolesterol dan
13,4% pada hewan yang diberi pakan tinggi kolesterol. Sedangkan
pemberian susu fermentasi oleh probiotik dari dadih yang dipasteurisasi
dan disterilisasi mampu menurunkan kolesterol sebanyak 42-45% pada pakan
tinggi kolesterol dan 50-53% pada pakan tanpa kolesterol.
Mengatasi kolesterol
Hasil penelitian tersebut tentu menjadi kabar baik bagi penderita
penyakit jantung koroner dan orang yang memiliki kandungan kolesterol
dalam darah yang tinggi. Artinya, dadih potensial sebagai pengendali
kolesterol.
Tidak hanya berhenti sampai di sana, Dr. Eni Harmayani terus
melakukan penelitian inovatif untuk membuat tablet
effervescent
yang berisi dadih. Sehingga dadih dapat disimpan dalam waktu yang lama,
mudah dibawa ke mana-mana dan lebih praktis. Bila diperlukan, konsumen
tinggal memasukkan tablet ke dalam segelas air matang dan segera
meminumnya.
Konsumsi dadih secara langsung tidak menimbulkan diare atau keracunan.
Diduga asam laktat yang terdapat di dalam dadih mampu mengalahkan
bakteri jahat yang terdapat di dalam susu. Bakteri probiotik di dalam
dadih mampu bertahan di dalam saluran pencernaan manusia.
Namun sayang, meski dadih merupakan produk lokal dalam negeri sendiri,
namun riset tentang bakteri asam laktat di dalam dadih sangat intensif
dilakukan para peneliti Jepang.
Sekarang ini di Jepang telah dipasarkan yogurt yang mengandung bakteri baik asal dadih yang memiliki merek dagang Dadihi.
Padahal selain dadih, susu kerbau fermentasi sudah dikenal oleh masyarakat di beberapa daerah lain.
Di Aceh, susu kerbau dibuat menjadi mentega dan minyak samin, sedangkan di Sumatera Utara, susu kerbau fermentasi disebut dali.
Dengan semakin banyaknya penelitian inovatif dalam bidang pengolahan
susu kerbau fermentasi dapat diharapkan susu kerbau menjadi salah satu
alternatif sumber protein hewani yang tersedia secara murah di perdesaan
sehingga kasus gizi buruk (malnutrisi) yang merebak di beberapa daerah
belakangan ini dapat dicegah.
Sumber : Dr. A. Rusfidra, S.Pt
Dadih, mungkin sebagian
besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal
Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu
kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan
yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga
merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat
perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu
perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara
tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di
fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah
bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah
disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan
daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di
diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai
wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu
dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat
dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang
licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna
kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau
betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi
oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada
musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme
dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk
ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih
juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi
pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi
dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih
dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan
makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati
masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah
dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat
dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang
enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan
lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang
terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah
dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama
2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya
sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan
kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan
yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita
melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti
mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat
meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar
kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak
salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena
rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian
besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal
Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu
kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan
yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga
merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat
perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu
perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara
tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di
fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah
bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah
disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan
daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di
diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai
wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu
dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat
dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang
licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna
kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau
betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi
oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada
musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme
dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk
ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih
juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi
pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi
dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih
dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan
makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati
masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah
dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat
dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang
enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan
lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang
terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah
dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama
2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya
sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan
kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan
yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita
melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti
mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat
meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar
kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak
salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena
rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian
besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal
Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu
kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan
yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga
merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat
perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu
perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara
tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di
fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah
bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah
disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan
daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di
diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai
wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu
dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat
dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang
licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna
kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau
betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi
oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada
musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme
dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk
ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih
juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi
pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi
dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih
dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan
makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati
masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah
dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat
dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang
enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan
lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang
terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah
dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama
2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya
sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan
kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan
yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita
melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti
mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat
meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar
kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak
salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena
rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian
besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal
Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu
kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan
yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga
merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat
perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu
perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara
tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di
fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah
bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah
disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan
daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di
diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai
wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu
dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat
dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang
licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna
kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau
betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi
oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada
musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme
dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk
ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih
juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi
pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi
dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih
dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan
makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati
masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah
dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat
dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang
enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan
lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang
terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah
dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama
2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya
sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan
kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan
yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita
melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti
mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat
meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar
kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak
salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena
rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian
besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal
Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu
kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan
yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga
merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat
perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu
perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara
tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di
fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah
bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah
disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan
daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di
diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai
wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu
dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat
dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang
licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna
kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau
betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi
oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada
musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme
dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk
ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih
juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi
pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi
dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih
dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan
makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati
masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah
dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat
dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang
enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan
lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang
terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah
dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama
2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya
sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan
kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan
yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita
melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti
mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat
meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar
kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak
salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena
rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585