ICE CREAM CUP

------------->

ICE CREAM

--------->

FROZEN YOGHURT

---------->

KEJU MOZZARELLA

------->

ON THE DAIRY FARM

---------->

...SEGERA DIBUKA... ...ALAM SERAMBI Fresh Milk...... ...PRODUCT :... ...SUSU MURNI... ...YOGHURT... ...ICE CREAM... ...KEJU MOZARELLA... ...ROTI SUSU... ...STIK SUSU... ...NUGET SUSU... ...PUDING SUSU... ...DAN ANEKA PRODUK OLAHAN SUSU LAINYA, YANG PASTI FARM MILIK SENDIRI (LAS DAIRY FARM) YANG MENJAMIN PRODUK INI SEHAT, AMAN, STERIL DAN HALAL... #ayominumsusu

Telaga Dewi Pandai Sikek

Keindahan Alam Telaga Dewi Tak Kalah dengan Ranu Kumbolo
Pandai Sikek – Di Gunung Singgalang, Sumatera Barat, ada danau di ketinggian 2.760 mdpl. Suasananya begitu tenang. Hati siapa pun yang mendaki pasti terpikat saat memandangnya. Ya, danau itu bernama Telaga Dewi. Keindahannya pun tak kalah dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru

Jika menikmati keindahan Telaga Dewi ditemani segelas susu, teh, atau kopi, Anda harus berusaha dan menyiapkan mental. Ya, akses menuju danau tersebut tidak gampang. Ada beberapa jalur untuk tiba di sana. Salah satunya, Jalur Pandai Sikek.
Mencapai danau tersebut memakan waktu lumayan panjang. Ya, sekitar tujuh jam berjalan kaki. Namun, beberapa pendaki biasanya memutuskan membuka camp di Cadas. Esoknya, mereka melanjutkan perjalanan ke Telaga Dewi.
Keindahan Alam Telaga Dewi Tak Kalah dengan Ranu Kumbolo
Di awal perjalanan, Anda akan disapa hutan pimpiang atau tumbuhan sejenis ilalang, tetapi mempunyai batang seukuran jempol yang lentur. Tanaman tersebut kerap membuat kanopi rendah di jalur pendakian. Karena itu, terkadang Anda harus berjalan sambil merunduk.
Carrier yang tersangkut pun menjadi pemandangan yang lazim dijumpai, mengingat track seperti itu. Kira-kira setelah satu jam, Anda akan melewati hutan pimpiang. Selanjutnya, jangan berharap banyak ”bonus” seperti jika Anda menyambangi Ranu Kumbolo. Tidak ada ”bonus” di sini. Anda hanya akan menatap tanjakan dan akar-akar pohon berukuran besar.
Keindahan Alam Telaga Dewi Tak Kalah dengan Ranu Kumbolo

Jika berangkat via Pandai Sikek, tidak perlu takut tersesat. Sebab, beberapa berupa tiang listrik berfungsi sebagai patokan. Cukup ikuti tiang tersebut hingga sampai Cadas. Setelah tiba, Anda bisa bermalam atau langsung bergerak ke Telaga Dewi.
Keluar dari Cadas, tanjakan terjal berupa tanah kuning dan bebatuan keras pun menanti. Anda pun mendapati Tugu Galapagos di sana. Itu adalah monumen untuk mengenang dua pencinta alam dari SMA 1 Padang yang hilang pada 1988.
Selanjutnya adalah hutan lumut. Tidak ada lagi tanjakan terjal. Tetapi, waspadalah. Jalur ini licin karena berlumut. Banyak batang kayu yang roboh dan tumpang tindih. Karena beberapa spot bagus, pendaki sering mengabadikan gambar dengan latar hutan lumut.
Setelah melewati hutan lumut, sebuah telaga terhampar di depan. Sangat luas. Airnya tenang dan suasananya sunyi. Ada juga dermaga kecil dari terbuat dari kayu.
Setelah menjalani perjalanan cukup berat dan melelahkan, rasanya semuanya terbayarkan karena melihat keindahan Telaga Dewi. Beberapa pendaki pun biasanya tidak memilih summit attack meski tinggal satu jam perjalanan. Mereka lebih memilih menikmati Telaga Dewi. Bagaimana, Anda tertarik untuk mencoba? (Freddy Julio – sisidunia.com)

Nikmatnya Olahan Ketan Susu Khas Minang


KOMPAS.com - Siapa sangka menikmati makanan tradisional akan lebih nikmat jika langsung mencicipinya di daerah asalnya. Dengan suasana dan aroma yang mendukung, akan menambah kenikmatan rasa saat berkuliner di tanah Minang.

Ampiang dadiah menjadi salah satu makanan tradisional masyarakat Minang. Kuliner ini sudah ada sejak zaman dulu. Ampiang dadiah berasal dari bahasa Minang, "ampiang" berarti berdekatan dan "dadiah" berarti susu yang dikentalkan atau susu fermentasi.

Ampiang adalah beras ketan yang ditumbuk pipih. Uniknya proses pemipihan ampiang ini dilakukan saat beras ketan masih panas setelah direbus kering. Dengan proses pembuatan yang tradisional dan tidak begitu rumit, untuk membuatnya pun tidak begitu lama.

Kompas.com/Rachmat Ogie KurniawanAmpiang dadiah
Ampiang di Sumatera Barat umumnya merupakan produksi rumah tangga yang terdapat di Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar. Tepatnya di jorong Ladang Laweh sekitarnya.

Pengrajin ampiang umumnya adalah "induak induak" atau kaum ibu. Mereka membuat ampiang di "dangau" atau pondok ampiang yang lazim berada di dekat rumah masing-masing. Pengerjaannya harus beberapa orang, minimal tiga orang. Satu orang menumbuk, satu menimang, dan satu lagi merendang.

Ampiang umumnya dipasarkan ke berbagai kota di Sumatera Barat. Seperti Kota Padang, Bukittinggi, dan Padangpanjang. Juga banyak dijual di berbagai bofet seperti di Padang Panjang, ampiang badadiah dijual di Bofet Gumarang.

Bofet Gumarang berada di jantung kota tepatnya di depan terminal mikrolet dan terkenal dengan menu andalannya yaitu ampiang dadiah. Selain itu juga tersedia bubur kampiun dan es tebak yang juga menjadi andalan Gumarang. Gumarang ini tidak hanya terkenal dengan makanannya, juga terkenal menjadi tempat pertemuan bagi para tokoh masyarakat yang berkumpul di meja satu.

Selain enak dimakan dengan kue, Ampiang juga enak dimakan dengan dadiah campur "Tangguli", gula saka atau gula merah dan sedikit kelapa parut. Makanan ini disebut dengan "ampiang badadiah".

Olahan enak lainnya dari ampiang adalah dimakan dengan "kapalo dadiah". Dadiah ditaruh di tabung dari bambu. Kuliner-kuliner ini mampu membuat lidah serasa dimanja oleh budaya  Indonesia yang masih kental. Anda wajib menikmatinya jika singgah ke Kota Padangpanjang, Sumatera Barat.
Penulis: Rachmat Ogie Kurniawan
Editor: Ni Luh Made Pertiwi F

DADIH

Aneka produk olahan susu fermentasi saat ini populer sebagai pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Produk olahan susu fermentasi yang banyak dikonsumsi dan beredar luas di masyarakat misalnya yogurt dan kefir. Sebenarnya produk olahan susu fermentasi sudah lama dikenal di Indonesia. Sebut saja, masyarakat Sumatera Barat yang sudah lama mengenal dan mengonsumsi dadih, yaitu produk susu kerbau fermentasi.

Dadih adalah pangan tradisional yang sudah dikonsumsi sejak lama oleh masyarakat Sumatera Barat. Masyarakat pedesaan sering mengonsumsi dadih secara langsung atau sebagai lauk pauk pendamping nasi.  
Pembuatan dadih

Dadih terbuat dari fermentasi susu kerbau. Teknologi pembuatannya sangat sederhana. Setelah diperah, susu kerbau langsung dimasukkan ke dalam sepotong ruas bambu segar dan ditutup dengan daun pisang. Selanjutnya didiamkan atau difermentasi secara alami dalam suhu ruang selama satu sampai dua hari sampai terbentuknya gumpalan.
Dalam waktu 24 jam, mikroba dari bambu akan menggumpalkan susu menjadi semacam puding atau tahu putih kekuning-kuningan, kental dan beraroma khas (kombinasi aroma susu dan bambu). Setelah proses fermentasi selesai, dadih dapat langsung dimakan.
Yudoamijoyo ddk (1983) menyebutkan dadih mengandung zat gizi sebagai berikut: kadar air (84,35%), protein (5,93%), lemak (5,42%), karbohidrat (3,34%). Kadar keasaman (pH) dadih adalah 3,4. Di dalam dadih  diisolasi dan didentifikasi 36 strain bakteri pembentuk asam laktat.
 
 
Manfaat dadih
Dari beberapa penelitian diketahui bahwa dadih mengandung bakteri asam laktat (BAL) yang potensial sebagai probiotik. Di dalam dadih terdapat bakteri asam laktat (salah satu jenis bakteri probiotik) yang berperan dalam pembentukan tekstur dan cita rasa.
Bakteri asam laktat dan produk turunannya mampu mencegah timbulnya berbagai penyakit seperti mencegah enterik bakteri patogen, menurunkan kadar kolesterol di dalam darah, mencegah kanker usus, anti mutagen, anti karsinogenik dan meningkatkan daya tahan tubuh (Suryono, 2003).
Selain itu, dadih diduga efektif sebagai antivaginitis (Suryono, 1996).

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eni Harmayani dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM berhasil melakukan isolasi bakteri asam laktat (BAL) dari dadih. Bakteri tersebut dinamakan Lactobacillus sp. Dad 13.
Selanjutnya berdasarkan uji in vitro dan in vivo ternyata BAL dari dadih terbukti ampuh menurunkan kolesterol.


Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa dadih efektif menurunkan kolesterol 39,8% pada hewan coba yang diberi pakan tanpa kolesterol dan 13,4% pada hewan yang diberi pakan tinggi kolesterol. Sedangkan pemberian susu fermentasi oleh probiotik dari dadih yang dipasteurisasi dan disterilisasi mampu menurunkan kolesterol sebanyak 42-45% pada pakan tinggi kolesterol dan 50-53% pada pakan tanpa kolesterol.
 
Mengatasi kolesterol
Hasil penelitian tersebut tentu menjadi kabar baik bagi penderita penyakit jantung koroner dan orang yang memiliki kandungan kolesterol dalam darah yang tinggi. Artinya, dadih potensial sebagai pengendali kolesterol.
Tidak hanya berhenti sampai di sana, Dr. Eni Harmayani terus melakukan penelitian inovatif untuk membuat tablet effervescent yang berisi dadih. Sehingga dadih dapat disimpan dalam waktu yang lama, mudah dibawa ke mana-mana dan lebih praktis. Bila diperlukan, konsumen tinggal memasukkan tablet ke dalam segelas air matang dan segera meminumnya.
 
Konsumsi dadih secara langsung tidak menimbulkan diare atau keracunan. Diduga asam laktat yang terdapat di dalam dadih mampu mengalahkan bakteri jahat yang terdapat di dalam susu. Bakteri probiotik di dalam dadih mampu bertahan di dalam saluran pencernaan manusia.

Namun sayang, meski dadih merupakan produk lokal dalam negeri sendiri, namun riset tentang bakteri asam laktat di dalam dadih sangat intensif dilakukan para peneliti Jepang.
Sekarang ini di Jepang telah dipasarkan yogurt yang mengandung bakteri baik asal dadih yang memiliki merek dagang Dadihi.
Padahal selain dadih, susu kerbau fermentasi sudah dikenal oleh masyarakat di beberapa daerah lain.
Di Aceh, susu kerbau dibuat menjadi mentega dan minyak samin, sedangkan di Sumatera Utara, susu kerbau fermentasi disebut dali.


 
Dengan semakin banyaknya penelitian inovatif dalam bidang pengolahan susu kerbau fermentasi dapat diharapkan susu kerbau menjadi salah satu alternatif sumber protein hewani yang tersedia secara murah di perdesaan sehingga kasus gizi buruk (malnutrisi) yang merebak di beberapa daerah belakangan ini dapat dicegah.





Sumber : Dr. A. Rusfidra, S.Pt
Dadih, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama 2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama 2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama 2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama 2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585
Dadih, mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal pangan yang merupakan produk asal Sumatera Barat. Dadih yang selama ini kita kenal adalah produk dari susu kerbau yang difermentasi, sejumlah orang berpendapat dadih mirip dengan yogurt. Pendapat tersebut bisa dikatakan benar karena yogurt juga merupakan hasil dari fermentasi susu. Namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan dadih dengan yogurt yang kita kenal hari ini. Salah satu perbedaan tersebut terletak dari proses pengolahan. Dadih diolah secara tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan katalain dadih di fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang licin, jika menggunakan bambu buluh maka dadih yang dihasilkan bewarna kuning gading dengan tekstur kasar. Selain itu penggunaan buluh atau betung juga akan mempengaruhi kadar lemak. Mutu dadih juga di pengaruhi oleh jenis kerbau dan umurnya. Pembuatan dadih sangat tergantung pada musim, hal inilah yang akan berdampak pada pertumbuhan mikroorganisme dari susu yang difermentasi. Di minangkabau dadih merupakan simbol untuk ungkapan perasaan dari seorang keluarga kepada tamu. Selain itu dadih juga dijadikan makanan yang dapat di konsumsi langsung dan menjadi pencampur makanan. Biasanya masyarakat di minangkabau yang mengkonsumsi dadih secara langsung menyebutnya sebagai lauk. Tidak hanya itu, dadih dapat diolah menjadi makanan yang tidak kalah enaknya dibandingkan makanan lain, salah satu makanan olahan dari dadih yang paling di minati masyarakat di Sumatera Barat adalah emping dadih. Emping dadih diolah dengan mencampurkan dadih, emping, dan gula merah. Dadih dapat dikonsumsi oleh semua orang tanpa ada batasan usia. Selain rasanya yang enak ternyata dadih juga memiliki kandungan gizi yang bisa dikatakan lengkap. Jika kita ulur kembali kedepan, dadih merupakan olahan yang terbuat dari susu kerbau yang memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan gizi dadih tidak kalah dibandingkan jika mengkonsumsi susunya saja, jika dadih disimpan selama 2-3 hari dalam wadah bambu betung maka persentasi kandungan lemaknya sebesar 10,82%, karbohidrat 7,7%, protein 10,27, vitamin C 0,12% dan kandungan mineral lainnya. Selain factor wadahnya, ternyata kandungan yang terdapat dalam dadih juga dapat dipengaruhi oleh seberapa lama kita melakukan penyimpanan. Dadih juga mengandung bakteri probiotik anti mikroba jahat, manfaat lain dari mengkonsumsi dadih seperti dadih dapat meningkatkan sistim imun pada saluran pencernaan, menurun kadar kolesterol darah, dadih dapat menekan perkembangan sel tumor. Tidak salah jika dadih memiliki konsumen yang banyak, bukan hanya karena rasanya namun juga manfaat kesehatan yang didapat konsumen.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yoppymairizonrs/dadih-pangan-tradisional-minangkabau-bernilai-gizi-tinggi_552c3e0d6ea8343c2e8b4585

DAIRY FARM

Sapi Perah yang sesuai SNI No.2735:2008 dan memiliki sertifikat dari LSPro Bibit Ternak di Kelompok Tani Ternak Lembu Alam Serambi, Kota Padang Panjang

Lembu Alam Serambi LAS Dairy Farm
Nama Banowati
Ear Tag No. 2049
Reg. No. AHO 01 INA B 2049 33021
Kode Bapak Willsona Silas 0200HO03404
Kode Induk Lyncrest CPBC A 1
Produksi Induk 6.493 kg
Tgl IB 10 Sept 2014
Estimasi Partus 18 Juni 2015
Suryadi Agus